Anatomi Payudara Dan Faktor Hormonal


image

Anatomi Payudara Dan Faktor Hormonal

ASI mengandung hormon dan faktor pertumbuhan yang berperan dalam proses pematangan saluran cerna terutama fungsi kekebalan dan ketahanan terhadap penyakit. Pemberian ASI eksklusif bersifat protektif terhadap penyakit Diabetes Mellitus tipe I dan 2, serta obesitas. Ibu dengan penyakit endokrin relatif aman untuk menyusui.

  • Areola Aerola adalah daerah berwarna gelap yang mengelilingi puting susu. Pada areola terdapat kelenjar-kelenjar kecil yang disebut kelenjar Montgomery, menghasilkan cairan berminyak untuk menjaga kesehatan kulit di sekitar areola.
  • Alveoli Alveoli adalah kantong penghasil ASI yang berjumlah jutaan. Hormon prolaktin mempengaruhi sel alveoli untuk menghasilkan ASI.
  • Duktus laktiferus Duktus laktiferus merupakan saluran kecil yang yang berfungsi menyalurkan ASI dari alveoli ke sinus laktiferus (dari pabrik ASI ke gudang ASI)
  • Sinus laktiferus / ampula Sinus laktiferus merupakan saluran ASI yang melebar dan membentuk kantung di sekitar areola yang berfungsi untuk menyimpan ASI.
  • Jaringan lemak dan penyangga Jaringan lemak di sekeliling alveoli dan duktus laktiferus yang menentukan besar kecilnya ukuran payudara. Payudara kecil atau besar mempunyai alveoli dan sinus laktiferus yang sama, sehingga dapat menghasilkan ASI sama banyak. Di sekeliling alveoli juga terdapat otot polos, yang akan berkontraksi dan memeras keluar ASI. Keberadaan hormon oksitosin menyebabkan otot tersebut berkontraksi.
  • Air susu ibu dan hormon prolaktin Setiap kali bayi menghisap payudara akan merangsang ujung saraf sensoris disekitar payudara sehingga merangsang kelenjar hipofisis bagian depan untuk menghasilkan prolaktin. Prolaktin akan masuk ke peredaran darah kemudian ke payudara menyebabkan sel sekretori di alveolus (pabrik ASI) menghasilkan ASI. Prolaktin akan berada di peredaran darah selama 30 menit setelah dihisap, sehingga prolaktin dapat merangsang payudara menghasilkan ASI untuk minum berikutnya. Sedangkan untuk minum yg sekarang, bayi mengambil ASI yang sudah ada. Makin banyak ASI yang dikeluarkan dari gudang ASI (sinus laktiferus), makin banyak produksi ASI. Dengan kata lain, makin sering bayi menyusui makin banyak ASI diproduksi. Sebaliknya, makin jarang bayi menghisap, makin sedikit payudara menghasilkan ASI. Jika bayi berhenti menghisap maka payudara akan berhenti menghasilkan ASI. Prolaktin umumnya dihasilkan pada malam hari, sehingga menyusui pada malam hari dapat membantu mempertahankan produksi ASI. Hormon prolaktin juga akan menekan ovulasi (fungsi indung telur untuk menghasilkan sel telur), sehingga menyusui secara eksklusif akan memperlambat kembalinya fungsi kesuburan dan haid. Oleh karena itu, menyusui pada malam hari penting untuk tujuan menunda kehamilan.
  • Air susu ibu dan refleks oksitosin (Love reflex, Let Down Reflex) Hormon oksitosin diproduksi oleh bagian belakang kelenjar hipofisis. Hormon tersebut dihasilkan bila ujung saraf disekitar payudara dirangsang oleh isapan. Oksitosin akan dialirkan melalui darah menuju ke payudara yang akan merangsang  kontraksi otot di sekeliling alveoli (pabrik ASI) dan memeras ASI keluar dari pabrik ke gudang ASI. Hanya ASI di dalam gudang ASI yang dapat dikeluarkan oleh bayi dan atau ibunya. Oksitosin dibentuk lebih cepat dibanding prolaktin. Keadaan ini menyebabkan ASI di payudara akan mengalir untuk dihisap. Oksitosin sudah mulai bekerja saat ibu berkeinginan menyusui (sebelum bayi menghisap). Jika refleks oksitosin tidak bekerja dengan baik, maka bayi mengalami kesulitan untuk mendapatkan ASI. Payudara seolah-olah telah berhenti memproduksi ASI, padahal payudara tetap menghasilkan ASI namun tidak mengalir keluar. Efek penting oksitosin lainnya adalah menyebabkan uterus berkontraksi setelah melahirkan. Hal ini membantu mengurangi perdarahan, walaupun kadang mengakibatkan nyeri.

Keadaan yang dapat meningkatkan hormon oksitosin Beberapa keadaan yang dianggap dapat mempengaruhi (meningkatkan) produksi hormon oksitosin :

  • Perasaan dan curahan kasih sayang terhadap bayinya.
  • Celotehan atau tangisan bayi
  • Dukungan ayah dalam pengasuhan bayi, seperti menggendong bayi ke ibu saat akan disusui atau disendawakan, mengganti popok dan memandikan bayi, bermain, mendendangkan bayi dan membantu pekerjaan rumah tangga
  • Pijat bayi

Beberapa keadaan yang dapat mengurangi produksi hormon oksitosin

  • Rasa cemas, sedih, marah, kesal, atau bingung
  • Rasa cemas terhadap perubahan bentuk pada payudara dan bentuk tubuhnya, meniggalkan bayi karena harus bekerja dan ASI tidak mencukupi kebutuhan bayi.
  • Rasa sakit terutama saat menyusui
  • Faktor pertumbuhan Selain kandungan nutrisi ASI mengandung hormon dan faktor pertumbuhan (growth factor) yang merupakan komponen bioaktif protein. Komponen tersebut berfungsi terutama untuk meningkatkan kemampuan adaptasi saluran cerna setelah bayi lahir dengan cara  merangsang pertumbuhan sel saluran cerna, pematangan sistem saluran cerna, pembentukan koloni kuman baik, dan perkembangan jaringan limfoid saluran cerna. Faktor pertumbuhan yang terdapat dalam ASI antara lain IGF-1, EGF, TGF- a dan -b. Keberadaan hormon, faktor pertumbuhan serta komponen faktor kekebalan tubuh lainnya sangat penting dalam perkembangan sistem kekebalan saluran cerna, sehingga berperan penting dalam mencegah penyakit bagi si kecil
  • Leptin dan adiponektin Leptin merupakan hormon pengatur nafsu makan/asupan makanan dan metabolisme energi. Pada kegemukan ditemukan kekurangan leptin atau resistensi terhadap kerja leptin. Casabiele dkk. (1977) pertama kali membuktikan adanya leptin ini dalam ASI. Meskipun makna keberadaan leptin dalam ASI belum banyak diteliti, namun Mirales dkk. (2006) mengungkapkan bahwa kadar leptin dalam ASI selama periode menyusui berbanding lurus dengan kadar leptin dalam darah ibu dan indeks massa tubuh ibu.  Peran leptin dalam ASI adalah pada asupan makanan. Hal ini dapat menerangkan mengapa berat badan bayi yang mendapatkan ASI lebih ringan dibanding bayi yang mendapat susu formula. Pada keadaan resistensi terhadap kerja leptin, kadar leptin tidak kurang tetapi leptin tidak dapat bekerja dengan baik. Makin banyak bayi mendapat ASI maka makin kecil kemungkinan si bayi mengalami kegemukan di kemudian hari
  • Adiponektin ASI juga mengandung adiponektin yang berfungsi mencegah terjadinya penebalan pembuluh darah (aterosklerosis) dan radang. Diperkirakan kedua hormon ini akan dapat mengurangi risiko anak dari penyakit kardiovaskular di kemudian hari. Seperti diketahui, obesitas pada usia dini dapat merupakan faktor risiko kelainan kardiovaskular (hipertensi, penyakit jantung koroner) pada usia dewasa.

Peran hormon pada ibu menyusui

Penelitian mengenai peran hormonal pada ASI sebagian besar tertuju pada proses laktasi itu sendiri. Peran hormon prolaktin dan oksitosin pada proses laktasi sudah banyak diketahui umum. Hormon tersebut bekerja pada ibu menyusui dan bermanfaat kepada kesejahteraan ibu, seperti menurunnya risiko kanker, obesitas, depresi, dan lain-lain. Peran hormon prolaktin dan oksitosin selengkapnya dapat dilihat pada topik ’Manajemen Laktasi’.

  • Diabetes Melitus Diabetes Mellitus (DM) atau lebih dikenal dengan penyakit kencing manis secara garis besar dibagi 2, yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. Sebenarnya terdapat tipe lain, tapi sangat jarang ditemukan. Pada anak lebih sering ditemukan DM tipe 1, meskipun akhir-akhir ini DM tipe 2 dilaporkan mulai meningkat.
  • Diabetes Mellitus tipe 1 Diabetes Mellitus tipe 1 ditandai dengan kurang atau tidak adanya hormon insulin dan meningkatnya kadar gula darah. Keadaan ini disebabkan oleh kerusakan sel beta pankreas akibat reaksi autoimun. Kerusakan sel beta pankreas menyebabkan berkurangnya insulin. Hormon insulin diperlukan oleh tubuh untuk mengatur kadar gula darah agar tubuh dapat menggunakan glukosa atau gula sebagai sumber energi. Bila insulin tidak ada atau berkurang, maka gula tidak dapat digunakan oleh sel tubuh dan kadar gula darah akan meningkat. Meskipun faktor genetik berperan terhadap terjadinya DM tipe 1, interaksi faktor lingkungan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh juga merupakan hal yang penting. Penelitian yang menghubungkan menyusui dengan kejadian DM tipe 1 dilaporkan pertama kali di Skandinavia. Penelitian ini membandingkan anak yang menderita DM tipe 1 dengan saudara kandungnya yang sehat. Anak yang menderita DM tipe 1 ternyata mendapat ASI lebih singkat dibanding mereka yang tidak menderita DM tipe 1. ASI yang diberikan dalam kurun waktu singkat tidak dapat memberikan perlindungan cukup terhadap bahan yang dapat menyebabkan penyakit diabetes. Selain itu, susu sapi diduga dapat merusak sel beta pankreas melalui beban protein yang dikandungnya. ASI dapat mengurangi risiko terjadinya DM tipe 1. Pemberian ASI dalam kurun waktu singkat atau pemberian dini protein susu sapi dapat meningkatkan risiko terkena DM tipe 1 sebanyak paling sedikit 2 kali lipat. Penelitian yang pada anak 0-14 tahun menunjukkan risiko menderita DM tipe 1 pada anak yang mendapat susu formula 11,3 kali lebih besar dibanding anak yang mendapat ASI eksklusif. Penelitian ini memperlihatkan betapa besarnya pengaruh pajanan protein susu sapi terhadap risiko DM tipe 1 meskipun mempunyai risiko genetik yang sama.
  • Diabetes Mellitus tipe 2  dan sindrom metabolik Pada DM tipe 2 tidak terjadi kekurangan hormon insulin, melainkan lebih disebabkan oleh resistensi insulin sehingga terjadi hiperinsulinemia (kadar insulin tinggi). Pada resistensi insulin, kadar insulin sebenarnya masih dapat normal, namun terjadi kekurang/ tidakpekaan terhadap insulin, sehingga diperlukan kadar insulin lebih tinggi untuk mencapai kadar gula darah normal. Selain dapat berdiri sendiri, DM tipe 2 juga merupakan bagian dari sindrom metabolik. Sindrom metabolik adalah keadaan yang ditandai oleh 3 hal, yaitu (1) kegemukan (obesitas), (2) tekanan darah tinggi, dan (3) gangguan kadar lemak darah (kadar trigliserida tinggi dan kolesterol HDL rendah). Keadaan tersebut merupakan faktor risiko terjadinya penebalan dinding pembuluh darah (aterosklerosis) dan penyakit jantung koroner. Penelitian oleh Petitt dkk (1997) mempelajari hubungan antara menyusui dengan penyakit DM tipe 2 pada masyarakat Indian Pima. Orang yang mendapat ASI eksklusif mempunyai risiko lebih kecil (2,5 kali) untuk menderita DM tipe 2 dibanding mereka yang hanya mendapat susu melalui botol. Menyusui juga menurunkan angka kejadian kegemukan yang dapat menyebabkan hiperinsulinemia dan resistensi insulin. Pemberian susu melalui botol dapat menyebabkan pemberian kalori yang berlebihan akibat adanya usaha mengisap dan asupan lemak yang konstan. Sedangkan, pada bayi yang menyusui (ASI) umumnya sudah mulai letih saat hind milk (mengandung kalori tinggi) dikeluarkan.
  • Obesitas Angka kejadian adipositas dan obesitas pada anak dilaporkan meningkat dan menjadi masalah kesehatan yang serius baik bagi negara maju maupun negara berkembang. Dalam hal ini bukan hanya kejadian obesitas saja yang perlu diperhatikan, melainkan juga tingkat adipositasnya. Adipositas adalah derajat perlemakan tubuh (banyaknya lemak dalam tubuh) dan biasanya diukur dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT, yaitu berat badan/tinggi badan dalam kg/m2). Hal ini penting karena penyakit jantung/pembuluh darah dan DM tipe 2 berhubungan erat dengan derajat obesitas dan adipositas. Beberapa penelitian tentang efek protektif ASI terhadap kegemukan (overweight) memperlihatkan hasil yang bervariasi. Kajian terhadap 61 penelitian (mencakup 298.900 subyek) tentang hubungan menyusui/pemberian ASI dengan kejadian kegemukan atau obesitas pada anak usia 0-17 tahun. Hasil kajian mereka mendapatkan bahwa pemberian ASI berhubungan dengan penurunan kejadian obesitas di kemudian hari. Perilaku ibu yang lebih lebih responsif terhadap tanda lapar atau kenyang bayi juga berpengaruh terhadap efek tersebut. Kries, dkk. (1999) juga mendapatkan efek protektif ASI terhadap risiko obesitas pada anak usia 5-6 tahun. Angka kejadian kegemukan menurun sejalan dengan lamanya pemberian ASI. Makin lama ASI diberikan makin kecil kemungkinan terjadi obesitas. Angka kejadian kegemukan pada anak usia 5-6 tahun yang mendapat ASI eksklusif selama 2 bulan sebesar 3,8%, sedangkan sebesar 1,7% pada mereka yang mendapat ASI selama 6-12 bulan, dan 0,8% selama 12 bulan.
  • Pertumbuhan Penelitian longitudinal di Kenya dan Guinea–Bissau melaporkan bahwa menyusui sampai usia lebih dari 12 bulan berhubungan dengan kecepatan pertambahan berat badan dan panjang badan. Hasil yang sama juga dijumpai pada penelitian yang dilakukan pada anak Senegal yang menyusui sampai usia 2 tahun. Penelitian longitudinal terhadap 133 bayi Afro-Colombia berusia 5-7 bulan yang diikuti sampai usia 18 bulan juga memperlihatkan efek positif pada penambahan berat badan dan panjang badan. Penelitian di Republik Belarus memperlihatkan hasil pemberian ASI ekslusif dan pemberian ASI yang lebih lama memicu pertambahan berat badan dan panjang badan pada bulan-bulan pertama dan tidak memperlihatkan defisit berat badan dan tinggi badan pada usia 12 bulan.
  • Defisiensi vitamin D Kalau kita membaca jurnal kesehatan banyak yang menghubungkan kejadian rickets dengan menyusui. Rickets merupakan suatu bentuk penyakit keropos tulang pada bayi dan anak. Penyebab keadaan ini antara lain adalah kekurangan vitamin D (defisiensi vitamin D) atau kekurangan kalsium. Proses metabolisme vitamin D non aktif menjadi vitamin D aktif di kulit membutuhkan pajanan sinar matahari. Kekurangan vitamin D dihubungkan dengan kurangnya pajanan terhadap sinar matahari seperti tinggal di daerah yang lebih banyak musim dingin atau daerah yang tinggi, kulit gelap atau cara berbusana yang tertutup (karena faktor budaya atau agama). Rickets lebih sering ditemukan pada anak lebih besar akibat diet yang kurang mengandung kalsium, terutama pada masyarakat yang kurang mengkonsumsi bahan makanan dari produk susu dan lebih banyak mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung fitat. Pada bayi yang mendapat ASI sebenarnya terlindung dari keadaan tersebut karena vitamin D pada ibu terutama dalam bentuk 25-hidroksi-vitamin D (25(OH)vit D). Bentuk ini dapat melalui plasenta, sehingga kadar vitamin D bayi dapat mencapai 2/3 dari kadar vitamin D ibu. Untuk menjamin kecukupan vitamin D, bayi yang menyusui secara ekslusif juga perlu diperhatikan terhadap pajanan sinar matahari. Di negara dengan sinar matahari yang cukup, seperti Indonesia kekurangan vitamin D tidak terlalu menjadi masalah. Vitamin D dari ibu dapat mencukupi kebutuhan vitamin D bayi sampai beberapa minggu pertama kehidupannya (2 bulan), meskipun bayi tidak mendapat tambahan vitamin D dari luar. Tentu saja perlindungan ini hanya dapat diharapkan bila si ibu mempunyai kadar vitamin D yang adekuat selama kehamilan.

Ibu dengan penyakit endokrin

  • Pada ibu hamil yang menderita Diabetes Mellitus, terdapat kecenderungan untuk melahirkan bayi yang besar. Meskipun beberapa peneliti lain menyatakan bahwa kecenderungan tersebut juga dipengaruhi oleh faktor lain, misalnya volume ASI yang diminum pada minggu pertama. Sebuah penelitian di Jerman yang mengobservasi anak (usia 5,4+1,6 tahun) dari ibu-ibu yang menderita DM hanya pada saat hamil (DM Gestasional) memperlihatkan bahwa pemberian ASI selama lebih dari 3 bulan dapat menurunkan terjadinya kegemukan dan penurunan ini sejalan dengan makin lama si anak disusui. Menyusui dapat menurunkan risiko tejadinya kegemukan, tanpa dipengaruhi oleh status diabetes dan berat badan ibu.
  • Ibu hamil yang menderita kelainan kelenjar gondok (tiroid) berpengaruh terhadap tumbuh kembang bayi. Ibu penderita hipertiroid (kelebihan hormon tiroid) yang tidak berobat dengan benar, zat pencetus hipertiroid pada ibu dapat merangsang kelenjar gondok janin sehingga bayi lahir dengan hipertiroid.
  • Bayi yang lahir dengan hipertiroid akan meningkatkan metabolisme tubuh dan penutupan tulang tengkorak secara dini. Penutupan dini akan menyebabkan perkembangan volume otak tidak maksimal. Oleh karena itu, ibu penderita hipertiroid dianjurkan untuk berobat teratur. Konsumsi obat antiroid selama menyusui telah dilaporkan aman bagi bayi.
  • Demikian pula ibu hamil dan menyusui yang menderita hipotiroid (kekurangan hormon tiroid) sebaiknya menjaga kondisinya pada kadar hormon tiroid normal. Terapi pengganti hormon tiroid juga dilaporkan aman bagi ibu menyusui dan si kecil, selama hormon tiroid terjaga pada kadar normal.
  • image

www.asilaktasi.com

Provided By: KLINIK ASI LAKTASI ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation. “BREAST IS THE BEST. Children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future”. We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life”. GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085102466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 29614252 – 08131592-2012 – 0813159202013 email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com Facebook http://www.facebook.com/GrowUpClinic Twitter: @growupclinic Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online We are guilty of many errors and many faults.

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, KLINIK ASI LAKTASI ONLINE, Information Education Network. All rights reserved

Pos ini dipublikasikan di ASI, Manajemen Laktasi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s