Terapi Medis Untuk Meningkatkan Produksi ASI


image

Terapi Medis Untuk Meningkatkan Produksi ASI

Beberapa obat medis dan herbal telah banyak diteliti dan digunakan untuk meningkatkan dan mempertahankan produksi ASI termasuk pada keadaan prematuritas, gagal tumbuh, adopsi dan pemisahan ibu bayi karena ibu atau bayi sakit. Sebelum menggunakan laktogogue ini, sebaiknya memperbaiki teknik menyusui, dan faktor-faktor lain yang mungkin menjadi penyebab kurangnya produksi ASI. Beberapa obat seperti metoklopramid, Domperidon, Sulpirid, dan klorpromazin dilaporkan penggunaannya untuk mempertahankan proses menyusui dan memperbaiki produksi ASI. Walaupun demikian penggunaan obat tersebut perlu pengawasan karena adanya efek samping yang dilaporkan. Obat herbal dapat dipertimbangkan penggunaannya pada keadaan kekurangan ASI dengan mempertimbangkan risiko dan keuntungannya.

Obat atau zat yang dipercaya dapat membantu merangsang, mempertahankan atau meningkatkan produksi air susu ibu (ASI) ibu menyusui. Produksi ASI yang rendah merupakan alasan tersering ibu/orangtua untuk menghentikan menyusui bayinya sehingga ibu-ibu dan dokter berusaha mencari obat untuk mengatasi masalah ini.

ASI diproduksi melalui proses kompleks yang mencakup faktor fisik dan emosional serta interaksi banyak hormon terutama hormon prolaktin. Setelah bayi dilahirkan dan plasenta dikeluarkan, kadar hormon progesteron dan estrogen ibu menurun sehingga kadar prolaktin akan meningkat dan dimulailah produksi ASI (kontrol endokrin). Setelah beberapa hari kadar prolaktin secara bertahap berkurang tetapi produksi ASI dipertahankan bahkan meningkat karena mekanisme umpan balik lokal yaitu dengan mengosongkan payudara (kontrol otokrin) Oleh karena itu, peningkatan kadar prolaktin diperlukan untuk meningkatkan produksi ASI, tetapi tidak untuk mempertahankan produksi ASI. Jika pengosongan payudara tidak dilakukan secara teratur dan sempurna, produksi ASI akan berkurang. Sebaliknya, makin sering dan sempurna pengosongan payudara menyebabkan peningkatan produksi ASI.

Prolaktin Prolaktin dihasilkan oleh kelenjar hipofisis bagian depan akibat stimulasi pada puting. Proses ini diatur oleh hipotalamus dengan dopamin sebagai mediator. Konsentrasi prolaktin serum meningkat selama kehamilan dari 10 ug/L pada wanita tidak hamil menjadi 200 ug/L pada saat kehamilan cukup bulan. Prolaktin dihambat kerjanya dengan kenaikan konsentrasi hormon progesteron. Setelah persalinan, prolaktin ibu yang tidak menyusui akan kembali ke kadar sebelum hamil dalam 2-3 minggu pasca melahirkan. rolaktin serum basal ibu menyusui tetap tinggi dan meningkat lebih tinggi karena stimulasi pada puting.

Oksitosin Ketika bayi menyusu di payudara ibu, saraf sensoris di areola terangsang. Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus, menyebabkan pelepasan oksitosin dari hipofisis bagian belakang. Pelepasan oksitosin dihambat oleh katekolamin yang diproduksi jika ibu stres atau kesakitan. Pencegahan dan pemecahan masalah menyusui yang menyebabkan ibu kesakitan dan stres sangat penting untuk mencapai keberhasilan menyusui.

Indikasi Pemberian Obat

  • Menyusui bayi adopsi (induksi menyusui pada ibu yang tidak mengandung bayi tersebut), relaktasi (menyusui kembali setelah berhenti) dan meningkatkan produksi yang kurang lancar karena ibu atau bayi sakit atau setelah dipisahkan.
  • Ibu yang tidak menyusui secara langsung tetapi dengan memerah ASI dengan tangan atau dengan pompa sering mengalami penurunan dalam produksi ASI setelah beberapa minggu.
  • Alasan tersering penggunaan pemberian obat adalah untuk meningkatkan produksi ASI yang berkurang pada ibu dengan bayi prematur atau bayi sakit yang dirawat di unit perawatan intensif.
  • image

Daftar Obat Medis Untuk meningkatkan produksi ASI

  • Metoklopramid Metoklopramid pada awalnya dipakai sebagai obat antipsikotik dan kemudian di Amerika dipakai sebagai obat gastrokinetik. Penggunaan obat ini sebagai laktogogue pertama kali dilaporkan pada tahun 1975 dalam sebuah surat dan untuk pertama kali diteliti pada tahun 1979. Banyak penelitian metoklopramid sebagai laktogogue, tetapi tidak dianggap sahih dengan standar kedokteran berbasis bukti (evidence based medicine) saat ini. Banyak dari penelitian itu tidak menggunakan plasebo, hanya beberapa yang dilakukan secara acak serta tidak menggunakan dasar-dasar manajemen laktasi yang baik. Metoklopramid meningkatkan produksi ASI dengan menghambat pelepasan dopamin di susunan saraf pusat, yang mengakibatkan peningkatan kadar prolaktin. Obat ini adalah obat muntah dan juga sering digunakan untuk refluks gastroesofagus pada bayi. Walaupun kadar di ASI pernah diukur lebih tinggi dari kadar serum ibu, kadar pada bayi tidak dapat diukur atau kadarnya di bawah kadar terapi dan tidak pernah dilaporkan efek samping pada bayi. Metoklopramid tidak merubah komposisi ASI secara bermakna. Banyak penelitian yang menunjukkan kegunaan obat ini dalam menginduksi dan meningkatkan produksi ASI, tetapi hanya satu penelitian dengan kontrol tidak berhasil menunjukkan kegunaan obat ini. Penelitian ini membuktikan bahwa memberikan konseling dan semangat kepada ibu berguna untuk kesuksesan proses menyusui. Efek samping berupa keletihan, mengantuk, dan diare dapat terjadi tetapi biasanya ibu tidak perlu menghentikan penggunaan obat ini. Obat harus dihentikan jika terjadi gejala ekstrapiramidal yaitu penurunan kesadaran, sakit kepala, kebingungan, pusing, depresi mental, gelisah atau agitasi. Reaksi distonik akut jarang terjadi (<0,5%) dan mungkin memerlukan pengobatan difenhidramin. Metoklopramid tidak boleh digunakan pada pasien epilepsi atau dalam pengobatan anti kejang, mempunyai riwayat depresi atau dalam pengobatan antidepresi, mempunyai feokromositoma atau hipertensi tidak terkontrol, perdarahan atau obstruksi intestinal, riwayat alergi terhadap metoklopramid. Dosis yang dipakai 30-45 mg per hari dibagi dalam 3-4 dosis, selama 7-14 hari dengan dosis penuh dan diturunkan bertahap selama 5-7 hari. Penggunaan yang lebih lama dapat meningkatkan kejadian depresi. Kadang-kadang produksi dapat berkurang ketika dosis diturunkan, dosis efektif terendah dapat diteruskan.
  • Domperidon Domperidon adalah suatu antagonis dopamin yang dipakai sebagai pengobatan dispepsia postprandial kronik, esofagitis refluks dan emesis. Domperidon dipakai sebagai laktogogue pertama kali dilaporkan tahun 1983. Zat ini meningkatkan prolaktin serum pada wanita menyusui dan tidak menyusui. Pada wanita yang tidak menyusui, domperidon kurang efektif dibandingkan metoklopramid dengan dosis yang sama dalam meningkatkan prolaktin serum tetapi efeknya sama pada wanita yang telah memiliki lebih dari satu anak. Dosis domperidon untuk menginduksi dan mempertahankan laktasi berkisar 10-30 mg sehari 3 kali. Efek farmakologik domperidon lebih pada perifer dari pada sentral seperti metoklopramid.Domperidon sedikit larut dalam lemak, mempunyai berat molekul yang lebih besar dan sedikit berikatan dengan protein dibandingkan metoklopramid. Sifat ini yang menyebabkan terbatasnya zat ini melewati sawar darah otak, sehingga mengurangi efek samping ekstrapiramidal. Suatu penelitian acak, tersamar ganda, kontrol dengan plasebo oleh Da Silva dkk dilakukan terhadap 20 orang ibu dengan bayi prematur. Mereka mendapatkan domperidon 10 mg (n=11) atau plasebo (n=9) 3 kali sehari selama 7 hari. Pada hari ke 5 terdapat perbedaan kenaikan prolaktin serum pada kelompok domperidon dan plasebo. Produksi ASI mengalami kenaikan dari hari ke 2 ke hari ke 7 sebanyak 45% pada kelompok domperidon dan 17% pada kelompok plasebo. Banyaknya perbedaan data dasar pada kedua kelompok pada penelitian ini dan banyaknya dropout, maka pelitian ini gagal membuktikan tentang kegunaan domperidon sebagai laktogogue. Efek samping domperidon sangat jarang, yaitu mulut kering, sakit kepala (berkurang dengan pengurangan dosis) dan kram perut. Pengobatan domperidon dosis tinggi dalam waktu lama pada tikus dihubungkan dengan peningkatan jumlah tumor payudara. Hal ini belum pernah dilaporkan pada manusia. Domperidon tidak boleh diberikan pada pasien yang diketahui sensitif terhadap obat ini dan pasien dengan gangguan saluran cerna (perdarahan saluran cerna, sumbatan mekanik atau perforasi). Dosis yang dipakai 10-20 mg 3-4 kali per hari selama 3-8 minggu. Sebagian besar ibu telah menunjukkan respon 3-4 hari, tetapi bisa berkisar 24 jam sampai 2-3 minggu untuk mendapatkan efek maksimal.
  • Sulpirid Sulpirid adalah obat antipsikotik (neuroleptik) yang kerjanya dengan meningkatkan prolactin releasing hormone. Dua penelitian telah menunjukkan peningkatan produksi ASI dibandingkan plasebo. Efek samping pada ibu berupa efek ekstrapiramidal seperti pada penggunaan metoklopramid dan peningkatan berat badan. Dosis yang dianjurkan adalah 50 mg dua atau tiga kali per hari.
  • Chlorpromazin Chlorpromazin adalah sebuah anti psikotik yang juga sudah digunakan sebagai laktogogue. Pada suatu laporan kasus, disebutkan dosis 25 mg tiga kali sehari selama 1 minggu berhasil meningkatkan produksi ASI. Bentuk molekul chlorpromazin serupa dengan molekul dopamin, dan mempunyai kemampuan mengikat reseptor dopamin. Hal ini menyebabkan peningkatan kadar prolaktin. Penggunaan antipsikotik seperti sulpirid atau chlorpromazin dalam meningkatkan proses laktasi sudah dilakukan, tetapi penggunaan zat ini terbatas karena efek sampingnya termasuk kemungkinan reaksi ekstrapiramidal dan peningkatan berat badan.
  • Hormon Pertumbuhan Mekanisme kerja hormon pertumbuhan dalam meningkatkan laktasi belum diketahui. Penelitian Gabay pada 16 ibu sehat diberikan hormon pertumbuhan manusia dan plasebo pada hari ke 3-9. Pada data awal, produksi ASI kedua kelompok sama. Setelah 7 hari pengobatan, terdapat kenaikan produksi ASI yang bermakna pada kelompok yang mendapat terapi hormon pertumbuhan dibandingkan dengan kelompok plasebo. Tidak ada perubahan yang berarti dalam kandungan ASI dan tidak ada efek samping pada ibu. Penggunaan obat ini sebagai laktogogue masih terbatas.
  • Thyrotrophin-Releasing Hormone Thyrotrophin-releasing hormone (TRH) di Amerika Serikat dipakai sebagai bahan diagnostik untuk menilai fungsi tiroid. Strukturnya sama dengan TRH natural, yang meningkatkan pelepasan TSH dan prolaktin. Peter dkk. meneliti 19 ibu dengan ASI kurang secara acak. Pada kelompok yang mendapat TRH, produksi ASI meningkat. Penggunaan TRH dosis tinggi (40 mg) untuk waktu yang lama dihubungkan dengan terjadinya hipotiroid, tetapi tidak terjadi pada penelitian di atas. Pada praktek klinik, penggunaan TRH untuk inisiasi dan mempertahankan ASI tidak umum.
  • Oksitosin Obat ini tidak lagi dipakai di Amerika Serikat. Penelitian oleh Rusi dkk pada 8 ibu dengan bayi prematur yang mendapatkan oksitosin semprot atau cairan plasebo sebelum menyusui, didapatkan hasil berupa peningkatan produksi ASI pada ibu yang menggunakan oksitosin semprot hidung 3-5 kali pada primipara dan 2 kali lipat pada multipara. Pada penelitian ini tidak ditemukan perubahan dalam komposisi ASI.

www.asilaktasi.com

Provided By: KLINIK ASI LAKTASI ONLINE Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation. “BREAST IS THE BEST. Children are the world’s most valuable resource and its best hope for the future”. We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life”. GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085102466102 – 085100466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 29614252 – 08131592-2012 – 0813159202013 email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com Facebook http://www.facebook.com/GrowUpClinic Twitter: @growupclinic Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online We are guilty of many errors and many faults.

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, KLINIK ASI LAKTASI ONLINE, Information Education Network. All rights reserved

Pos ini dipublikasikan di Manajemen Laktasi dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s