Kontraindikasi atau Larangan Pemberian ASI


image

  • Bayi yang menderita galaktosemia. Bayi penderita galaktosemia tidak mempunyai enzim galaktase sehingga galaktosa tidak dapat dipecah. Bayi demikian juga tidak boleh minum susu formula. Galactosemia adalah kelainan metabolisme yang bersifat genetis. Kelainan ini jarang terjadi. Orangtua yang mengalami galactosemia bisa dipastikan anaknya akan mengalami penyakit serupa. Galactosemia pada dasarnya merupakan kelainan di mana dalam darah seseorang terdapat galaktosa. Laktosa terdapat pada susu, keju, dan mentega. Akumulasi galaktosa pada darah dapat menjadi racun bagi tubuh. Jika tidak diobati maka dapat menyebabkan komplikasi seperti gagal ginjal, katarak, dan kerusakan otak. Gejala dapat berupa sirosis hati, katarak, muntah, diare, pertumbuhan lambat. Satu-satunya pengobatan untuk galactosemia adalah dengan menghilangkan laktosa dan galaktosa dari makanan. Salah satunya adalah dengan diet ketat pada makanan yang mengandung laktosa.
  • Ibu dengan HIV AIDS Ibu dengan riawayat HIV/AIDS yang dapat memberikan PASI yang memenuhi syarat AFASS. Pemberian air susu ibu memang sangat dianjurkan demi kesehatan bayi. Namun, saat ibu menderita penyakit menular seperti HIV/AIDS, pemberian air susu ibu (ASI) justru bisa menjadi media penularan. Pada tahun 2012, seorang bayi berusia satu tahun di Belgia tertular HIV dari ibunya melalui ASI. Para dokter mengatakan, kasus ini terbilang langka di negara industri. Sudah dikenal selama 30 tahun bahwa menyusui merupakan salah satu cara penularan HIV dari ibu ke bayi. Penularan virus seperti ini sering terjadi di negara berkembang pada ibu yang telah terinfeksi HIV. Namun kasus ini sangat jarang terjadi di negara industri, tempat ibu yang positif HIV tidak disarankan menyusui bayinya. Saat ini bagi ibu hamil yang mengidap HIV/AIDS tidak perlu was-was dalam memberikan ASI secara eksklusif kepada sang buah hati. Pasalnya,  risiko penularan dapat ditekan melalui program Prevention Mother to Child Transmition (PMTCT). Melalui program PMTCT penularan  HIV dari ibu kepada bayinya dapat dicegah sejak awal masa kehamilan. Program PMTCT sebenarnya dapat dimulai sejak pasangan berencana mempunyai anak. Mereka yang terinfeksi harus berkonsultasi dengan dokter ahli. Kemudian ibu dengan HIV /AIDS akan mendapatkan terapi ARV profilaksis atau obat anti retroviral. Saat ini Mulai 14 minggu usia kehamilan sudah mulai. diberikan obat antivirus. Obat anti retroviral,  virus secara otomatis akan berkurang dalam tubuh pengidap. Semakin lama, diharapkan jumlahnya semakin menurun bahkan sampai tidak terdeteksi. Untuk meminimalisir penularan saat proses persalinan, ibu pengidap HIV biasanya dianjurkan untuk melakukan dengan cara caesar. Pasalnya, HIV banyak tersimpan di  limfosit pada dinding rahim sehingga jika melahirkan dengan cara normal, bayi dikhawatirkan terpapar lebih lama dengan darah yang mengandung HIV.Setelah melahirkan, ibu pengidap HIV positif yang minum obat anti retroviral boleh memberikan ASI kepada bayinya. Tetapi ada satu syarat yang harus dipenuhi yaitu memberikan ASI secara eksklusif selama enam bulan dan tidak boleh mencampur ASI dengan makanan lain.
  • Ibu dengan penyakit jantung yang apabila menyusui dapat terjadi gagal jantung.
  • Ibu yang memerlukan terapi dengan obat-obat tertentu (antikanker)
  • Ibu yang memerlukan pemeriksaan dengan obat-obat radioaktif perlu menghentikan pemberian ASI kepada bayinya selama 5x waktu paruh obat.
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s