Manfaat ASI Pada Pencegahan Obesitas


image

ASI berkaitan dengan kandungan hormonal dan faktor hormonal dalam tubuh manusia. ASI mengandung hormon dan faktor pertumbuhan yang berperan dalam proses pematangan saluran cerna terutama fungsi kekebalan dan ketahanan terhadap penyakit. Pemberian ASI eksklusif bersifat protektif terhadap penyakit Diabetes Mellitus tipe I dan 2, serta obesitas. Angka kejadian obesitas pada anak yang menunjukkan kecenderungan meningkat memerlukan upaya pencegahan. Pemberian ASI eksklusif telah banyak diteliti sebagai salah satu cara untuk mencegah risiko dan kejadian obesitas pada anak.

* Obesitas. Angka kejadian adipositas dan obesitas pada anak dilaporkan meningkat dan menjadi masalah kesehatan yang serius baik bagi negara maju maupun negara berkembang. Dalam hal ini bukan hanya kejadian obesitas saja yang perlu diperhatikan, melainkan juga tingkat adipositasnya. Adipositas adalah derajat perlemakan tubuh (banyaknya lemak dalam tubuh) dan biasanya diukur dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT, yaitu berat badan/tinggi badan dalam kg/m2). Hal ini penting karena penyakit jantung/pembuluh darah dan DM tipe 2 berhubungan erat dengan derajat obesitas dan adipositas.

Beberapa penelitian tentang efek protektif ASI terhadap kegemukan (overweight) memperlihatkan hasil yang bervariasi. * Kajian terhadap 61 penelitian (mencakup 298.900 subyek) tentang hubungan menyusui/pemberian ASI dengan kejadian kegemukan atau obesitas pada anak usia 0-17 tahun. Hasil kajian mereka mendapatkan bahwa pemberian ASI berhubungan dengan penurunan kejadian obesitas di kemudian hari. Perilaku ibu yang lebih lebih responsif terhadap tanda lapar atau kenyang bayi juga berpengaruh terhadap efek tersebut. 

* Penelitian yang dulakukan Kries, dkk. (1999) juga mendapatkan efek protektif ASI terhadap risiko obesitas pada anak usia 5-6 tahun. Angka kejadian kegemukan menurun sejalan dengan lamanya pemberian ASI. Makin lama ASI diberikan makin kecil kemungkinan terjadi obesitas. Angka kejadian kegemukan pada anak usia 5-6 tahun yang mendapat ASI eksklusif selama 2 bulan sebesar 3,8%, sedangkan sebesar 1,7% pada mereka yang mendapat ASI selama 6-12 bulan, dan 0,8% selama 12 bulan. 

* Divisi Nutrisi, Aktifitas Fisik dan Obesitas, National Center for Chronic Disease Prevention and Health Promotion (CDC) di Amerika melakukan penelitian untuk menguji hipotesis apakah bayi yang diberikan ASI eksklusif tidak akan mempunyai kelebihan berat badan setelah usia 6 bulan dan juga menguji bayi yang menghabiskan susu formula serta ibu yang selalu berusaha menghabiskan susu formula yang diberikan kepada bayinya yang berusia 6 bulan ke bawah akan mengalami kelebihan berat badan setelah usia 6 bulan. Data diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioener terhadap lebih kurang 2000 ibu yang mempunyai bayi dengan berat lahir minimal 1750 gram dan usia kehamilan 35 minggu ke atas. Hasil penelitian ini menunjukkan bayi yang mendapat ASI sebelum usia 6 bulan mempunyai risiko rendah untuk mengalami kelebihan berat badan, sedangkan sebaliknya bayi yang mengonsumsi susu botol berisiko tinggi kelebihan berat badan. Peneliti juga berkesimpulan konsumsi susu botol terlebih bila sering dihabiskan merupakan faktor risiko independen terhadap  berkembangnya obesitas anak.

* Penelitian di Amerika Serikat untuk mengetahui hubungan antara lama pemberian ASI dengan risiko obesitas pada anak dengan menggunakan data survei nasional tahun 1988-1994 terhadap 3461 anak usia 2-71 bulan, namun demikian analisis hanya dilakukan pada kelompok usia 3-5 tahun. Disain yang digunakan adalah seksi silang survei kesehatan nasional. Setelah faktor perancu dikendalikan, maka peneliti mengambil kesimpulan terdapat hubungan yang tidak konsisten antara pemberian ASI dan lamanya. Walapun pemberian ASI harus tetap dilakukan, namun efektivitas pemberian ASI dalam pencegahan obesitas tidak sama dengan faktor diet dan aktifitas fisik.

* Penelitian systematic review dilakukan oleh Owen dkk. dari Amerika yang mengulas sebanyak 61 kepustakaan dengan melibatkan hampir 300 ribu subjek. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan antara pemberian makan bayi dengan risiko obesitas pada masa selanjutnya. Hasil penelitian ini menunjukkan pemberian ASI merupakan faktor protektif untuk terjadinya obesitas pada usia selanjutnya, namun demikian peneliti memperingatkan kemungkinan adanya faktor perancu yang dapat mempengaruhi hasil penelitian.

* Penelitian seksi silang dilakukan di Inggris untuk melihat hubungan antara pemberian ASI dengan timbulnya obesitas pada anak. Sebanyak 2600 lebih anak yang berasal dari 1768 keluarga dilibatkan dalam penelitian ini dengan usia anak antara 4-18 tahun. Peneliti mengambil kesimpulan efek menguntungkan ASI tidak terlihat untuk mengurangi kejadian obesitas, namun demikian karena banyak manfaat menguntungkan lain dari ASI yang sudah diketahui, maka promosi pemberian ASI harus tetap dilakukan.

image

* Penelitian pada remaja usia 13-16 tahun yang lahir prematur satu kelompok mendapat susu formula sedangkan kelompok lain medapat ASI donor memperlihatkan, remaja yang semasa bayi mendapat ASI mempunyai kadar leptin yang relatif normal.

* Penelitian awal yang mencoba mencari peran ASI terhadap kejadian obesitas anak dilakukan oleh Kramer pada tahun 1981 yang menyimpulkan ASI berperan terhadap pencegahan obesitas. Setelah itu banyak penelitian sejenis yang dilakukan dengan berbagai disain penelitian. Seperti telah disinggung di awal tulisan, penelitian untuk mencari hubungan antara pemberian ASI dan risiko obesitas  dikemudian hari menggunakan kriteria/parameter yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut antara lain pada definisi ASI eksklusif, penentuan diagnosis obesitas dan jangka waktu pemantauan (follow up). Di bawah ini rangkuman tentang penelitianpenelitan yang telah dilakukan.

* Penelitian di Indonesia yang mengkaji hubungan pemberian ASI dengan timbulnya atau risiko obesitas sepengetahuan penulis masih sangat terbatas. Hal ini dapat dimaklumi, walaupun Indonesia termasuk negara berkembang namun frekuensi pemberian ASI terutama ASI eksklusif masih rendah khususnya di kota-kota besar.

* Penelitian untuk mencari hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan risiko terjadinya obesitas dilakukan di Indonesia yang melibatkan sekitar 700 anak usia 3-5 tahun. Disain yang digunakan adalah kohort retrospektif, yang kemudian dilakukan analisis menggunakan uji kai kuadrat dan regresi logistik. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ASI dapat menurunkan risiko obesitas pada anak bila diberikan sampai usia 12-24 bulan. Faktor lain yang juga harus dipertimbangkan adalah usia saat bayi diberikan makanan pendamping ASI. Penelitian ini tidak menjelaskan mekanisme bagiamana ASI dapat mengurangi risiko obesitas.

* Penelitian dilakukan oleh beberapa peneliti dari Jerman pada tahun 2004 yang melakukan meta analisis terhadap 9 penelitian yang memenuhi kriteria dari sekitar 900 penelitian yang direkrut. Sembilan penelitian ini terdiri dari penelitian seksi silang (cross sectional) dan kohort dengan basis penelitian populasi/komunitas. Sebanyak 69000 anak terlibat dalam meta analisis ini dengan usia pemantauan tertua mencapai 18 tahun. Peneliti berkesimpulan secara metodologi sulit melakukan penelitian meta analisis hubungan ASI dengan risiko obesitas karena untuk disain ini diperlukan penelitian kontrol acak (randomized control trial) yang secara etika sulit dilakukan untuk ASI. Peneliti-peneliti Jerman ini berkesimpulan walaupun kecil ASI tampaknya mempunyai efek protektif terhadap risiko obesitas anak di kemudian hari. Namun demikian peneliti tidak dapat menjelaskan secara pasti bagaimana mekanisme ASI dapat mengurangi risiko obesitas anak. Dugaan mekanismenya adalah faktor perilaku dan mekanisme hormonal yang mempengaruhi asupan makronutrien. Kadar hormon insulin yang lebih tinggi pada bayi yang minum susu formula dibandingkan bayi yang mendapat ASI akan merangsang deposit lemak, sehingga risiko obesitas sudah mulai terjadi pada usia dini. Sedangkan bayi yang mendapat ASI terhindar dari risiko obesitas karena peran faktor bioaktif yang ada di dalam ASI akan merangsang faktor pertumbuhan yang selanjutnya menghambat diferensiasi sel adiposit menjadi sel adiposit abnormal. Disamping itu asupan protein dan kalori anak yang mendapat ASI lebih rendah dibandingkan yang mendapat susu formula.

* Peneliti Jerman lainnya pada tahun 2005 melakukan penelitian meta analisis tentang hubungan ASI dan risiko obesitas pada anak. Meta analisis ini meliputi 17 penelitian yang melibatkan lebih dari 100 ribu anak yang diamati risiko obesitas sampai usia tertua 14 tahun (1 penelitian mengamati sampai anak berusia 26 tahun). Peneliti mendapatkan ASI secara terbalik dan linear berhubungan dengan risiko obesitas, yang berarti makin lama anak diberi ASI maka risiko obesitas menjadi semakin berkurang. Risiko obesitas juga berkurang 4 % tiap bulan pada saat diberi ASI, tetapi efek ini hanya terjadi sampai pemberian ASI 9 bulan saja, dan tidak dipengaruhi oleh definisi obesitas serta usia pada saat pemantauan. Menurut peneliti ini mekanisme bagaimana ASI dapat menurunkan risiko terhadap obesitas belum jelas, namun dikemukakan anak yang mendapat ASI mempunyai kenaikan berat badan tidak sebanyak bayi dengan susu formula pada masa kritis neonatus. Hal ini menyebabkan anak yang mendapat ASI mempunyai asupan kalori yang lebih rendah dibandingkan bayi yang mendapat susu formula. Kenaikan berat badan yang rendah selama masa kritis neonatus telah dibuktikan berhubungan dengan menurunnya risiko obesitas pada masa remaja dan dewasa.

* Penelitian dengan disain kohort dilakukan oleh peneliti dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak Universitas Pennsylvania, di Amerika yang bertujuan menguji hipotesis apakah terdapat hubungan antara pemberian ASI dengan timbulnya obesitas pada populasi anak usia pra sekolah dengan ras/etnik yang berbeda. Penelitian dilakukan selama 2 tahun (1998-2000) yang melibatkan lebih dari 2400 anak dari 20 kota besar di 15 negara bagian di Amerika. Subjek dibagi menjadi 3 kelompok yaitu kelompok yang tidak mendapat ASI, mendapat kurang dari 4 bulan dan mendapat ASI 4 bulan atau lebih. Penelitian ini menunjukkan hubungan antara pemberian ASI dengan timbulnya obesitas berbeda untuk tiap ras. Untuk ras Hispanik (keturunan latin) kejadian obesitas lebih rendah pada anak yang mendapat ASI lebih atau sama dengan 4 bulan dibandingkan dengan yang tidak mendapat ASI atau diberikan ASI kurang dari 4 bulan. Namun demikian pemberian ASI tidak berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak-anak ras kulit putih dan hitam.

* Penelitian pada tahun 2008 di Norwegia tentang hubungan ASI dengan risiko obesitas pada masa anak dan remaja menggunakan disain seksi potong lintang (cross sectional). Peneliti ini menggunakan tebal lipatan kulit sebagai parameter penimbunan lemak tubuh, karena beranggapan parameter ini jauh lebih baik untuk merefleksikan massa lemak tubuh dibandingkan dengan menggunakan parameter indeks massa tubuh (IMT). Sebanyak 1137 bayi diikutsertakan dalam penelitian ini dengan usia tertua pada saat dipantau adalah 15 tahun. Penemuan pada penelitian ini adalah anak usia 15 tahun yang diberikan ASI kurang dari 2 bulan mempunyai IMT, lingkaran pinggang dan tebal lipatan kulit yang lebih besar dibandingkan anak seusia yang diberikan ASI 6 bulan atau lebih. Efek ini tidak berlaku lagi setelah dilakukan pengendalian (adjustment) untuk usia ibu dan kebiasaan ibu merokok. Namun demikian penelitian di Swedia ini tidak berhasil mendukung temuan pada penelitian-penelitian sebelumnya yang menyatakan makin lama ASI diberikan masih kecil risiko anak mengalami obesitas.

* Penelitian di Brazil, Amerika Latin pada tahun 2000 yang bertujuan mencari hubungan antara lamanya pemberian ASI dengan obesitas menggunakan disain kohort. Parameter obesitas yang diukur antara lain indeks massa tubuh (IMT) dan persentase massa lemak tubuh. Lebih dari 3000 anak terlibat dalam penelitian ini yang diikuti sampai usia 18 tahun. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pada anak yang diberikan ASI eksklusif atau sebagian besar diberikan ASI dapat mencegah obesitas pada masa remaja. Penelitian lain untuk mencari hubungan lama pemberian ASI dengan risiko obesitas di Brazil dilakukan oleh de Sequiera dan Monteiro terhadap anak sekolah usia 6-14 tahun yang mempunyai orangtua dengan status sosial ekonomi tinggi. Parameter obesitas yang diukur adalah IMT dan tebal lipatan kulit yang selanjutnya dihubungkan dengan lama pemberian ASI.

* Penelitian di Belarusia pada tahun 2009 melibatkan lebih dari 17 ribu anak yang dipantau sampai usia 61/2 tahun dengan disain penelitian kontrol acak menunjukkan hasil berbeda dengan penelitian lain. Peneliti berkesimpulan pemberian ASI eksklusif atau ASI dalam jangka waktu lama tidak berhubungan dengan kejadian obesitas pada usia selanjutnya. Kelompok peneliti ini juga mengemukakan  terdapatnya hubungan antara pemberian ASI dengan menurunnya kejadian obesitas yang ditemukan pada penelitian-penelitian sebelumnya sangat mungkin karena adanya faktor perancu. Peneliti menyarankan untuk dilakukan penelitian dengan disain longitudinal dan pengendalian terhadap faktor perancu, hal ini disebabkan karena angka kejadian obesitas anak di Belarusia tidak tinggi.

* Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri mengeluarkan pernyataan tentang bukti ilmiah pengaruh jangka panjang ASI terhadap obesitas yang menyatakan terdapat bukti ilmiah bahwa ASI mempunyai efek proteksi terhadap terjadinya obesitas walaupun disebutkan efek yang terlihat tidak terlalu kuat. Selanjutnya WHO juga menyatakan efek ini tidak disebabkan karena adanya faktor perancu antara lain lama pemberian ASI, definisi ASI eksklusif, dan definisi obesitas.

Pos ini dipublikasikan di ASI, Manfaa-Kandungan Gizi, Permasalahan Ibu, Permasalahan Pemberian ASI, Profesional, Tak Berkategori dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s