Kenali Beberapa Penyakit Yang Ditularkan Lewat ASI


image

Air susu ibu bukan merupakan tempat penularan dari sebagian besar infeksi virus pada ibu, oleh karena itu meneruskan menyusui merupakan tindakan terbaik bagi ibu dan bayi. Tetapi harus diwaspsdai tetdapat beberapa infeksi yang dapat ditularkan lewat ASI seperti Virus CMV, HIV, dan HTLV-1 merupakan virus yang sering dilaporkan sebagai penyebab infeksi pada bayi akibat penularan dari ASI. Infeksi bakteri pada ibu jarang mengakibatkan penularan infeksi melalui ASI kepada bayi. Pada sebagian kasus ibu menyusui dengan tersangka infeksi, menghentikan menyusui hanya akan mengurangi masukan nutrisi dan manfaat kekebalan dari ASI. Keputusan untuk menyusui harus mempertimbangkan manfaat tak ternilai ASI dibanding risiko tertularnya penyakit.

Beberapa penyakit infeksi yang dapat ditularkan melalui air susu ibu 

* Beberapa  virus (HIV1, human T-limfofotrophic virus I/HTLV-I, CMV) ditransmisi melalui ASI sehingga dapat menyebabkan infeksi pada bayi dan anak. Meskipun jarang, bakteri Streptococcus grup B dilaporkan dapat menginfeksi bayi melalui ASI. Walaupun demikian, menyusui jarang menjadi kontra-indikasi saat ibu mengalami infeksi. Segala keputusan tentang kemungkinan infeksi pada bayi dan anak harus mempertimbangkan keuntungan ASI dan kerugian risiko penularan penyakit.

Saat terjadinya infeksi pada ibu dan bayi dapat menentukan mekanisme penularan. Infeksi saat persalinan dapat terjadi akibat paparan darah/cairan tubuh atau kontak dengan mikrorganisme patogen. Infeksi yang terjadi setelah persalinan melalui orang yang merawatnya (misalnya orangtua, saudara, pengunjung, petugas kesehatan) atau lingkungan (alat kedokteran, muntahan). Paparan pada bayi umumnya terjadi sebelum penyakit pada ibu terdiagnosis (misalnya campak, infeksi virus Coxakie) atau sebelum ibu tampak sakit (cacar air, hepatitis). Oleh karena itu, menghentikan ASI  tidak akan mencegah infeksi pada bayi, bahkan akan mengurangi efek ASI untuk membatasi penyakit pada bayi. 
 
* Infeksi Bakteri. Infeksi bakteri sering terjadi pada neonatus dan bayi, dengan frekuensi 1-5 episod per 1000 kelahiran. Saat terjadinya infeksi dibagi menjadi early onset (sebelum usia 7 hari, terutama kurang dari 24 jam), late onset (usia 7-30 hari), dan very late-onset (usia lebih dari 30 hari). Mikroorganisme yang sering ditemukan pada early onset adalah Streptococci group B dan E. Coli, disamping beberapa mikroorganisme patogen lainnya, seperti Streptococci, Enterococcus spp. Listeria spp, Haemophilus influenzae, Streptococcus pneumoniae, Chlamydia spp, dan mikroorganisme genital ibu. Mikroorganisme tersebut juga dapat menyebabkan infeksi late- atau very late-onset. Transmisi mikroorganisme melalui ASI sangat jarang terjadi dibanding penularan saat persalinan atau melalui kontak langsung dengan lingkungan setelah melahirkan. . 

* Infeksi Clamydia merupakan infeksi yang ditularkan melalui hubungan seksual. Kolonisasi yang terjadi saat bayi melalui jalan lahir dapat menyebabkan konjungtivitis (infeksi pada mata) dan pneumonitis (infeksi pada paru).  Di dalam kolostrum dan ASI terkandung IgA sekretori spesifik terhadap Clamydia.  Sampai sejauh ini, tidak ada bukti penularan infeksi Clamydia melalui ASI.

* Escheria coli dapat menyebabkan bakteremia dan infeksi sistemik pada neonatus. Meskipun E.coli sering ditemukan pada lingkungan ibu dan bayi, belum pernah dilaporkan bahwa ASI sebagai sumber infeksi E. Coli. Infeksi Haemophilus influenzae dapat terjadi melalui kontak langsung atau droplet pernapasan. Begitu pula, belum ada bukti transmisinya melalui ASI, bahkan dilaporkan ASI dapat membatasi kolonisasi H. Influenzae di tenggorokan bayi. Neisseria gonorrhoeae ditransmisi melalui jalan lahir dan jarang melalui kontak setelah lahir. Risiko penularan melalui ASI tidak pernah dilaporkan, sehingga  ASI dapat terus diberikan.  

* Infeksi Staphylococcus sering terjadi lambat pada periode neonatus. Empat puluh sampai sembilan puluh persen bayi yang dirawat inap mengalami kolonisasi Staphylococcus aureus pada hari ke-5 dengan sumber infeksinya adalah kontak dengan ibu, petugas kesehatan, atau donor ASI yang terkontaminasi. Bakteri ini sering pula sebagai penyebab mastitis (infeksi kelenjar payudara) pada ibu. 

* Infeksi coagulase-negative staphylococcus menyebabkan infeksi late-onset pada bayi. Prematuritas, berat lahir rendah/sangat rendah, pengobatan invasif (infus,  pembedahan, cuci darah), pemakaian antibiotik dan perawatan yang lama merupakan faktor risiko terjadinya infeksi ini. Tidak ada perbedaan kejadian infeksi pada bayi yang mendapat susu formula dan ASI. Oleh karena itu, ASI tetap diberikan dan diharapkan dapat memberikan manfaat dari kandungan lainnya. 

* Streptococcus group B (GBS) ditransmisi  terutama saat dalam kandungan dan saat persalinan. American Academy of Pediatrics merekomendasi pemberian antibiotik profilaksis intrapartum pada bayi dengan risiko tinggi. Kolonisasi pada bayi terjadi saat pasca persalinan dan menyebabkan penyakit GBS late-onset. Penelitian menemukan GBS di dalam hidung, tenggorokan bayi, dan payudara ibu pada saat yang sama.  Penularan lebih disebabkan melalui kontak. Ibu yang terinfeksi dan mendapat pengobatan, perlu dipisahkan dari bayinya selama 24 jam dengan tetap memberikan ASI perah untuk bayinya.

* Begitu pula tidak ada bukti tentang penularan Clostridium botulinum atau toksinnya melalui ASI. Pertumbuhan Clostridium botulinum di dalam saluran cerna dapat dihambat dengan suasana asam yang ditimbulkan akibat mengkonsumsi ASI.

* Tuberkulosis kongenital dan mastitis tuberkulosis (TB) jarang terjadi. Penularan TB  setelah lahir dapat terjadi melalui droplet dari ibu atau anggota keluarga lainnnya yang menderita TB aktif. Bayi menyusui atau yang mendapat susu formula memiliki risiko yang sama untuk tertular melalui saluran napas. Apabila ibu sudah mendapat pengobatan yang adekuat dan sudah dinyatakan tidak menular, maka ibu dapat kontak langsung dengan bayinya.

* Pemantauan terhadap ibu dan bayi harus terus dilakukan sampai ibu selesai mendapat pengobatan. Transmisi TB dari ASI belum pernah dilaporkan pada kasus tanpa mastitis TB. ASI dapat diberikan secara aman pada bayi, karena obat anti TB pun dapat diberikan kepada bayi.  Satu-satunya kontraindikasi pemberian ASI adalah jika ibu menderita mastitis TB. Pengobatan profilaksis isoniazid yang diberkan kepada bayi dapat mencegah terjadinya infeksi TB. Apabila baik ibu maupun bayi mendapat terapi TB, maka ibu dapat kontak langsung dengan bayinya.

* Infeksi virus. Infeksi virus pada bayi dapat terjadi saat di dalam kandungan dan saat persalinan. Transmisi infeksi melalui ASI telah dilaporkan pada CMV, HIV1, dan HTLV-1. Cytomegalo virus merupakan infeksi kongenital tersering di Amerika. Sekitar 1% bayi mengekskresi CMV dari urinnya saat setelah lahir ( kurang dari usia 3 minggu).  Kurang lebih 5% bayi yang terinfeksi kongenital  akan mengalami gejala saat lahir dan 15% akan memperlihatkan gejala di kemudian hari (seperti kehilangan pendengaran dan gangguan belajar). Infeksi pada bayi dapat melalui kontak langsung atau cairan tubuh saat melahirkan. Infeksi saat setelah lahir dapat terjadi melalui ASI atau kontak dengan cairan tubuh dari individu yang terinfeksi. Infeksi melalui ASI jarang menyebabkan penyakit pada bayi cukup bulan. Antibodi pada ibu yang terinfeksi CMV dapat melalui plasenta dan melindungi bayi cukup bulan dari infeksi CMV. 

* Infeksi primer CMV yang terjadi pada ibu saat melahirkan atau selama laktasi jarang meningkatkan risiko penyakit pada bayi. Virus ini dapat diidentifikasi dalam ASI ibu dengan CMV positif dengan jumlah yang bervariasi. Penelitian melaporkan kejadian infeksi CMV berkurang pada bayi prematur yang mengkonsumsi ASI dengan CMV positif yang disimpan pada suhu -20OC atau dipasteurisasi. Ibu dengan CMV positf dapat memberikan ASI kepada bayinya yang cukup bulan dengan aman. Sebaliknya, bayi prematur dengan CMV negatif harus dihindarkan dari ASI dengan CMV positif. 

* Virus hepatitis (A, B dan C), CMV, dan virus Epstein Barr merupakan virus penyebab hepatitis terbanyak. Transmisi hepatitis A  (HAV) dalam ASI  hanya dilaporkan pada satu kasus dan paparan biasanya telah terjadi sebelum diagnosis pada ibu ditegakkan. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk menghentikan menyusui. Bayi dari ibu yang terinfeksi HAV harus mendapat imunoglobulin dan imunisasi HAV. 

* Infeksi hepatitis B (HBV) kronis berkembang pada 90% bayi yang terinfeksi saat dalam kandungan dan saat kelahiran. Meskipun transmisi HBV dapat melalui ASI, (+40% ASI dari ibu HBsAg positif juga menunjukkan HBsAg positif) tetapi tidak ada perbedaan kejadian infeksi pada bayi yang mendapat susu formula maupun ASI. Penelitian menggunakan mikroskop elektron memperlihatkan hanya partikel HBsAg  yang terkandung di dalam ASI ibu dengan  HBsAg positif  (tidak ada partikel Dane); hal ini menandakan bahwa ASI tidak menularkan penyakit hepatitis B. Pemberian Imunoglobulin Hepatitis B (HBIg)  dan  vaksin HBV segera setelah bayi lahir dari ibu penderita hepatitis B dapat mencegah  penularan  pada  lebih dari 95% kasus, tanpa memandang bagaimana pemberian makanannya dan ASI dapat terus diberikan.  

* Infeksi virus hepatitis C  (HCV) dapat menjadi infeksi kronik pada 70%-85%  kasus, tanpa memperhatikan kapan infeksi terjadi. Menyusui bukan merupakan kontraindikasi  bagi ibu dengan infeksi HCV, walaupun diduga bahwa puting lecet atau berdarah dapat meningkatkan risiko penularan.

* Virus herpes simpleks tipe 1 dan 2 (HSV-1,HSV-2)  dapat menyebabkan infeksi saat dalam kandungan dan persalinan. Penelitian melaporkan bayi yang mendapat ASI terinfeksi oleh HSV dari ibu HSV positif akibat luka pada payudara.  Menyusui atau ASI perah tanpa ada lesi pada payudara ibu dan tanda lain infeksi HSV dapat diberikan dengan menggunakan perlindungan yang aman, seperti menutupi daerah lesi/luka, menggunakan baju khusus dan rajin mencuci tangan. 

* Ibu dengan HIV-1 positif yang menyusui bayinya dapat meningkatkan risiko penularan melalui ASI sebesar 4%-22%.  Walaupun demikian, menghentikan pemberian ASI pada negara miskin justru akan meningkatkan angka kesakitan dan kematian akibat asupan nutrisi yang kurang atau akibat infeksi lain. Beberapa upaya dapat dilakukan untuk membatasi penularan HIV1 dari ibu ke bayi, antara lain memenuhi kriteria AFASS menyusui eksklusif, penghentian dini (6 bulan), edukasi untuk mengurangi terjadinya mastitis atau lesi pada puting, terapi antivirus untuk ibu dan bayi, mengurangi jumlah virus di ASI (dengan sinar ultraviolet, pembekuan, dan thawing), menstimulasi sistim kekebalan tubuh bayi dengan imunisasi. Semua upaya tersebut harus diuji kemampu laksanaannya (feasibility), diterima oleh budaya setempat, manfaat gizi, dan efikasi dengan efek terbaik. Virus HIV2 menyebabkan penyakit dengan gejala klinis mirip dengan HIV1. Oleh karena belum cukup data mengenai transmisi virus tersebut, maka pedoman menyusui atau memberi ASI sama dengan infeksi HIV1.   

* Respiratory syncytial virus (RSV) sering menyebabkan  penyakit saluran napas akut pada bayi dan anak. Sampai sejauh ini tidak ada bukti penularan RSV melalui ASI, sehingga menyusui pada ibu yang terinfeksi RSV dapat dilanjutkan. ASI perah dapat digunakan bila bayi mengalami kesulitan mengisap akibat adanya distres pernapasan.

* Infeksi virus varicella-zoster (VZV) menyebabkan varicella (cacar air) pada infeksi primer dan Herpes Zoster pada infeksi reaktivasi. Bayi yang menyusu pada ibu terinfeksi VZV mempunyai risiko tertular yang sama dengan bayi yang mendapat susu formula. Bayi harus dipisahkan dan dirawat oleh orang lain selama ibu masih dalam periode menular. ASI perah dapat diberikan kepada bayi jika tidak ada lesi kulit pada payudara atau setelah imunoglobulin varicella-zoster telah diberikan kepada bayinya.

* Virus rubella baik pada infeksi alamiah maupun pasca imunisasi pada ibu, dapat ditularkan ke bayi melalui ASI tetapi tidak menimbulkan efek yang membahayakan.

* Human T Lymphoma virus (HTLV) yang dilaporkan dapat menyebabkan leukemia dilaporkan ditransmisi melalui ASI.

Infeksi Yang Tidak Ditularkan Lewat ASI

* Beberapa penyakit ibu dengan gejala demam (misalnya payudara membangkak, atelektasis (paru kempis), peradangan pembuluh darah, dan infeksi saluran kemih) bukan merupakan alasan untuk memisahkan bayi dari ibunya. Pertimbangan penting lain yang berhubungan dengan ASI dan infeksi adalah kadar obat dalam ASI. Kadar obat dalam ASI yang tertelan oleh bayi umumnya tidak bermakna dibanding kadar obat yang diminum bayi secara langsung. 

* Virus dengue (serotipe 1-4) menyebabkan demam berdarah dengue. Tidak ada bukti ilmiah adanya penularan virus dengue melalui ASI. Ibu dengan penyakit dengue dapat tetap menyusui.

 

Sumber : IDAI dan berbagai sumber lainnya

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s