Manfaat ASI Dalam Pencegahan Infeksi


Efektivitas dan manfaat ASI dalam mengendalikan infeksi dapat dibuktikan dengan berkurangnya kejadian beberapa penyakit spesifik pada bayi yang mendapat ASI dibanding bayi yang mendapat susu formula.

Manfaat ASI dalam Pencegahan Infeksi

* Penelitian oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO) membuktikan bahwa pemberian ASI sampai usia 2 tahun dapat menurunkan angka kematian anak akibat penyakit diare dan infeksi saluran napas akut.  

* Sistim kekebalan tubuh pada bayi saat lahir masih sangat terbatas dan akan berkembang sesuai dengan meningkatnya paparan mikroorganisme di dalam saluran cernanya. Berbagai faktor perlindungan ditemukan di dalam ASI, termasuk antibodi IgA sekretori (sIgA). Saat menyusui, IgA sekretori akan berpengaruh terhadap paparan mikroorganisme pada saluran cerna bayi dan membatasi masuknya bakteri ke dalam aliran darah melalui mukosa (dinding) saluran cerna. Peran perlindungan ASI terdapat pada tingkat mukosa. Pada saat ibu mendapat kekebalan pada saluran cernanya, kekebalan di dalam ASI juga terangsang pembentukkannya.

* Berbagai penelitian juga melaporkan bahwa ASI dapat mengurangi kejadian dan beratnya penyakit diare, infeksi saluran napas, radang telinga tengah (otitis media), radang selaput otak (meningitis), infeksi saluran kemih, dan infeksi saluran cerna yang disertai kematian jaringan (enterokolitis nekrotikan). 

* Imunoglobulin A yang terdapat di dalam ASI memiliki aktivitas antitoksin terhadap enterotoksin (racun) yang dihasilkan oleh bakteri E. Coli dan V. Cholerae,  dan antibodi terhadap beberapa tipe E. Coli. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan ditemukannya titer antibodi  E. Coli yang tinggi pada tinja bayi yang mendapat ASI. Suatu penelitian  prospektif di Bangladesh menunjukkan kadar antibodi kolera yang bervariasi di dalam kolostrum dan ASI. Adanya hubungan antara kolonisasi, kejadian penyakit, dan antibodi dalam ASI menunjukkan bahwa antibodi terhadap kolera tidak melindungi anak dari kolonisasi V. cholerae, tetapi melindungi terhadap terjadinya penyakit. Respons yang cepat dari kolostrum dan ASI serta kemampuan melawan kuman melalui pertahanan tubuh non-spesifik juga ditemukan pada infeksi salmonella.

* Strain (jenis) bakteri E. coli yang ditemukan pada tinja bayi menyusui berbeda dengan bayi yang mendapat susu formula. Jenis E. coli pada bayi menyusui lebih sensitif terhadap efek bakterisidal (mematikan bakteri) serum manusia, meskipun kurang sensitif terhadap reaksi spontan seperti yang terjadi pada tempat lain, yaitu kemaluan atau saluran kemih. Hal ini merupakan salah satu cara ASI melindungi tubuh terhadap infeksi.

* Cegah Infeksi E Coli Penelitian di Swedia menemukan bakteri E. coli jenis 0111 pada 6 anak yang mengalami diare; 2 diantaranya hanya mendapat ASI dan memperlihatkan gejala klinis yang ringan. ASI ibu kedua anak tersebut ternyata tidak mengandung antibodi terhadap E.coli 0111. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada faktor lain di dalam ASI yang berperan melindungi bayi dari penyakit berat.  

* Cegah Infeksi Virus . Air susu ibu mengandung antibodi terhadap berbagai jenis virus, antara lain  poliovorus, coxsakievirus, echovirus, influenza virus, reovirus, respiratory syncytial virus (RSV), rotavirus dan rhinovirus. Telah terbukti bahwa ASI menghambat pertumbuhan virus-virus tersebut. 

* Cegah infeksi RSV. Penelitian prospektif tentang respon kekebalan terhadap RSV memperlihatkan antibodi IgM dan IgG jarang ditemukan dalam kolostrum atau ASI, tetapi IgA spesifik RSV ditemukan pada  40-75%  spesimen (contoh) ASI. Dua orang ibu yang terinfeksi RSV memiliki IgG, IgM dan IgA di dalam serum dan sekresi hidung/tenggorokannya, tetapi hanya IgA yang ditemukan dalam ASInya. Keadaan ini membuktikan bahwa antibodi IgA spesifik terhadap mikroorganisme patogen saluran napas terdapat dalam ASI. Oleh karena RSV hanya bereplikasi (bertambah banyak) di saluran napas, maka antibodi spesifik RSV yang terdapat di dalam kelenjar payudara dapat berasal dari jaringan limfoid saluran napas (bronkus). Kolostrum mempunyai aktivitas menetralisasi terhadap RSV.  Virus ini mengancam jiwa dan sering sebagai penyebab bayi dirawat di beberapa negara berkembang. Bayi yang dirawat karena menderita infeksi RSV jauh lebih sedikit pada kelompok yang mendapat ASI dibanding bayi yang mendapat susu formula (7% vs 28%). 

* Cegah NECEnterokolitis nekrotikan merupakan ancaman serius pada bayi khusunya  prematur. Penelitian prospekti terhadap bayi berat lahir rendah di India dengan menggunakan ASI  donor dari manusia, didapatkan kejadian infeksi lebih sedikit secara bermakna dan tidak terdapat infeksi berat pada kelompok yang diberi ASI manusia, sedangkan bayi pada kelompok yang tidak mendapat ASI (kontrol) banyak mengalami diare, pneumonia, sepsis dan meningitis.

* Cegah Infeksi Telinga. Peran IgA sekretori di dalam ASI juga dapat dilihat pada kejadian radang telinga tengah (otitis media purulenta). Kejadian otitis media purulenta lebih sedikit pada kelompok bayi yang mendapat ASI eksklusif dibanding bayi yang hanya mendapat susu formula.  

* Perlindungan ASI terhadap protozoa Di dalam ASI terkandung bile salt stimulated lipase (BSSL) yang diduga berperan sebagai mematikan protozoa. Walaupun demikian mekanisme kerja secara pasti belum diketahui. Nonlipase (faktor non-imunoglobulin) juga telah diidentifikasikan di dalam ASI dan dapat menginaktivasi Giardia Lamblia.

image

Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s